SIBERMEDIA.MY.ID,LAMPUNG SELATAN – Tingginya angka Penyakit Tidak Menular (PTM) pada kelompok lanjut usia (lansia) di tingkat desa menjadi perhatian serius.
Berdasarkan hasil skrining kesehatan di Desa Wonodadi, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Lampung Selatan, tercatat sebanyak 68 persen lansia menderita Hipertensi Stage 2.
Fenomena ini turut diperparah oleh beban kesehatan ganda, di mana 54 persen lansia di wilayah tersebut juga mengalami masalah gizi lebih atau obesitas.
Menindaklanjuti kondisi klinis yang berpotensi memicu komplikasi kardiovaskular tersebut, tim pengabdian masyarakat (pengabmas) kolaboratif dari Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang mengambil langkah strategis.
Melibatkan kolaborasi tiga disiplin ilmu, yakni Jurusan Gizi, Farmasi, dan Kesehatan Lingkungan, tim meluncurkan program intervensi holistik yang menyasar pada warga lansia, kader kesehatan desa serta tim Tim Penggerak PKK.
Ketua tim pengabdi, Dr. Sefanadia Putri, S.TP., MTA, menegaskan bahwa penanganan hipertensi memerlukan pendekatan yang menyeluruh. “Pengendalian hipertensi tidak dapat bertumpu pada pendekatan farmakologis semata, melainkan membutuhkan kombinasi intervensi non-farmakologis holistik melalui modifikasi gaya hidup dan pemenuhan gizi seimbang. Melalui edukasi dan pendampingan yang tepat, kami ingin mencetak kemandirian warga dalam menjaga kesehatan diri dan keluarga,” tegasnya.
Kegiatan utama program ini meliputi skrining gizi massal, edukasi gizi seimbang dan penggunaan obat, pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH), hingga pelatihan memasak gizi seimbang lansia bagi kader.
Edukasi interaktif menggunakan media visual (leaflet) terbukti mampu mendongkrak pemahaman lansia dan kader, dengan catatan peningkatan pengetahuan gizi seimbang yang sangat signifikan hingga mencapai 80,6 persen.
Program ini juga membidik kemandirian posyandu melalui metode Training of Trainers (ToT) dalam sesi cooking class. Hasilnya, sebanyak 86,6 persen kader berhasil mencapai tingkat kelulusan kompeten dalam memodifikasi makanan serta menakar porsi rendah natrium yang ramah bagi penderita hipertensi.
Dukungan penuh juga ditunjukkan oleh aparat Desa Wonodadi Tanjung Sari yang secara resmi mengizinkan pemanfaatan lahan kosong di belakang kantor kepala desa untuk disulap menjadi area hijau produktif.
Lahan RTH percontohan tersebut kini telah ditanami berbagai Tanaman Obat Keluarga (TOGA), sayur, dan buah-buahan segar melalui gotong royong dan kerja sama aktif antara kelompok tani, warga desa, serta (TP PKK) setempat.
Melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, aparat desa, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi model intervensi kesehatan lansia yang efektif.
Keterlibatan aktif lintas sektor ini menjadi fondasi krusial bagi terwujudnya kemandirian posyandu dan dapur desa dalam menjaga kualitas hidup sehat lansia secara berkelanjutan.





