Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang Perkuat Kompetensi Kader Posyandu Lewat Pelatihan Konseling PMBA di Pesawaran

8 views

Sibermedia.my.id,Pesawaran – Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui peningkatan kapasitas kader posyandu. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggelar pelatihan Konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) bagi kader Posyandu di Desa Gerning, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang bertujuan membekali kader dengan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil, ibu menyusui, serta ibu yang memiliki balita mengenai praktik pemberian makan bayi dan anak sesuai rekomendasi.

Program tersebut dilatarbelakangi masih ditemukannya berbagai persoalan gizi di Desa Gerning, seperti kasus gizi kurang, berat badan balita yang tidak mengalami kenaikan saat penimbangan, hingga stunting. Berdasarkan hasil diskusi bersama tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan kader posyandu, kondisi tersebut dipengaruhi oleh rendahnya praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), mulai dari pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), cakupan ASI eksklusif, hingga pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang belum memenuhi prinsip gizi seimbang.

Selain itu, belum tersedianya kader yang memiliki kompetensi sebagai konselor PMBA menyebabkan layanan penyuluhan dan konseling di Posyandu, khususnya pada meja penyuluhan (Langkah 5), belum berjalan secara optimal.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang, Sutrio, SKM, M.Kes, mengatakan bahwa kader posyandu memiliki posisi strategis dalam mendukung perubahan perilaku masyarakat di bidang kesehatan.

“Melalui pelatihan ini kami ingin meningkatkan kemampuan kader agar mampu memberikan konseling yang benar kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu balita. Dengan kader yang kompeten, praktik pemberian makan bayi dan anak di masyarakat diharapkan semakin baik sehingga risiko stunting dapat dicegah sejak dini,” ujarnya.

Tim pengabdian terdiri atas Sutrio, SKM, M.Kes sebagai ketua, bersama Dr. Anggun Rusyantia, SP, MEP dan Antun Rahmadi, SKM, MPH sebagai anggota. Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Gerning serta tenaga kesehatan setempat.

Kepala Desa Gerning, Ahmad Sungkawa, yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang atas pelaksanaan program pemberdayaan kader di desanya.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan tambahan ilmu dan keterampilan bagi kader posyandu. Kami berharap setelah pelatihan ini pelayanan posyandu semakin baik dan upaya pencegahan stunting di Desa Gerning dapat berjalan lebih optimal,” katanya.

Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai praktik PMBA sesuai rekomendasi, mulai dari pentingnya IMD, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, hingga penyusunan MPASI bergizi seimbang sesuai usia anak. Para kader juga mengikuti praktik dan simulasi konseling menggunakan berbagai kasus yang umum ditemui di masyarakat agar lebih percaya diri saat memberikan pendampingan kepada keluarga.

Pelatihan turut menitikberatkan pada penguatan fungsi meja penyuluhan Posyandu. Kader dibimbing untuk mampu menjelaskan hasil pemantauan pertumbuhan balita kepada orang tua, memberikan rekomendasi pemberian makan sesuai kondisi anak, serta melakukan pendampingan melalui kunjungan rumah bagi keluarga yang memiliki balita berisiko mengalami masalah gizi.

Menurut Dr. Anggun Rusyantia, perbaikan status gizi anak harus dimulai sejak Seribu Hari Pertama Kehidupan melalui penerapan praktik PMBA yang tepat. Sementara itu, Antun Rahmadi menegaskan bahwa keberhasilan pencegahan stunting membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, dengan kader posyandu sebagai penggerak utama di tingkat desa.

Melalui kegiatan ini, Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang berharap kemampuan kader posyandu dalam memberikan konseling PMBA semakin meningkat sehingga pelayanan Posyandu menjadi lebih optimal, status gizi bayi dan balita dapat terus membaik, serta upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menjadi contoh bagi desa-desa lain di Provinsi Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *